Bila Aspirasinya Tidak Disikapi, Serikat Petani Mengancam Kerjakan Reforma Agraria Versus Rakyat

Bila Aspirasinya Tidak Disikapi, Serikat Petani Mengancam Kerjakan Reforma Agraria Versus Rakyat

Partai Pekerja dan Serikat Petani Indonesia (SPI) melangsungkan demonstrasi Hari Tani Nasional di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sekretaris Jenderal Serikat Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli Ardiansyah menjelaskan terus akan lakukan demonstrasi bila aspirasinya tidak disikapi Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Bahkan juga khusus masalah tempat, SPI akan lakukan reforma agrasia versus warga untuk menjaganya.

“Tentu saja kita akan lakukan tindakan langsung di atas lapangan kuasai tempat, merampas tempat, memproses tempat, menghasilkan tempat, sampai itu dapat menyejahterakan dan hidupkan kita di atas lapangan. Maknanya tersebut reforma agraria versus rakyat kita kerjakan sekalian kita menekan pemerintahan,” tutur ia di antara demonstrasi.

Tindakan itu diawali pada jam 10.15 WIB dan massa sempat berjalan pada Jalan Medan Medeka Barat melalui Monumem Nasional atau Monas lalu putar balik melalui Balai Kota DKI, dan kembali datang di muka Patung Kuda pada jam 10.48 WIB. Mereka tiba dipegang oleh tiga mobil instruksi, dan sebagian orang berganti-gantian lakukan pidato di atasnya.

Demonstran mayoritas bawa bendera Partai Pekerja warna oranye dan bendera SPI warna kuning. Disamping itu ada pula yang bawa banner dan poster yang bertuliskam tuntutan. “Tolak peningkatan harga BBM, stop gertakan, kriminalisasi, dan diskriminasi,” tercatat dalam salah satunya banner.

“Ada tiga tuntutan kita di tindakan hari tani ini yang hendak kita berikan langsung ke Presiden Jokowi. Dan gagasannya kami bisa info akan diterima oleh faksi Sekretariatan Presiden. Semoga perwakilan petani dapat masuk dan memberikan tuntutannya langsung,” papar Ruli.

Ruli menerangkan tuntutan dari demonstrasi itu, pertama minta supaya pemerintahan melakukan reforma agraria dan tuntaskan perselisihan agraria. Menurutnya, pemerintahan telah janji akan meredistribusi sembilan juta hektar tanah sama sesuai program fokus yang hendak dikerjakan Pemerintah Jokowi, tetapi realitanya sampai sekarang ini masih kurang aktualisasinya.

“Bahkan juga kita banyak alami kriminalisasi, penggusuran pada perjuangan-perjuangan petani yang menuntut haknya pada hak atas tanah,” sebut Ruli.

Tuntutan ke-2 menampik UU Cipta Kerja. Karena, kata Ruli, didalamnya selainnya masalah pekerja, petani ikut juga menanggung derita karena pokok dari UU itu ialah kepenguasaan tempat untuk kebutuhan pembangunan beberapa proyek infrastruktur atas nama project vital ataubproyek pembangunan nasional. “Lahan-lahan petani digusur.”

Partai Pekerja dan Serikat Petani Indonesia melangsungkan tindakan demo di tempat Patung Kuda, Jalan Medan Medeka Barat, Jakarta Pusat.

Partai Pekerja dan Serikat Petani Indonesia (SPI) melangsungkan demonstrasi Hari Tani Nasional di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Sekretaris Jenderal Serikat Petani Indonesia (SPI) Agus Ruli Ardiansyah menjelaskan terus akan lakukan demonstrasi bila aspirasinya tidak disikapi Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Bahkan juga khusus masalah tempat, SPI akan lakukan reforma agrasia versus warga untuk menjaganya.

“Tentu saja kita akan lakukan tindakan langsung di atas lapangan kuasai tempat, merampas tempat, memproses tempat, menghasilkan tempat, sampai itu dapat menyejahterakan dan hidupkan kita di atas lapangan. Maknanya tersebut reforma agraria versus rakyat kita kerjakan sekalian kita menekan pemerintahan,” tutur ia di antara demonstrasi.

Tindakan itu diawali pada jam 10.15 WIB dan massa sempat berjalan pada Jalan Medan Medeka Barat melalui Monumem Nasional atau Monas lalu putar balik melalui Balai Kota DKI, dan kembali datang di muka Patung Kuda pada jam 10.48 WIB. Mereka tiba dipegang oleh tiga mobil instruksi, dan sebagian orang berganti-gantian lakukan pidato di atasnya.

Demonstran mayoritas bawa bendera Partai Pekerja warna oranye dan bendera SPI warna kuning. Disamping itu ada pula yang bawa banner dan poster yang bertuliskam tuntutan. “Tolak peningkatan harga BBM, stop gertakan, kriminalisasi, dan diskriminasi,” tercatat dalam salah satunya banner.

“Ada tiga tuntutan kita di tindakan hari tani ini yang hendak kita berikan langsung ke Presiden Jokowi. Dan gagasannya kami bisa info akan diterima oleh faksi Sekretariatan Presiden. Semoga perwakilan petani dapat masuk dan memberikan tuntutannya langsung,” papar Ruli.

Ruli menerangkan tuntutan dari demonstrasi itu, pertama minta supaya pemerintahan melakukan reforma agraria dan tuntaskan perselisihan agraria. Menurutnya, pemerintahan telah janji akan meredistribusi sembilan juta hektar tanah sama sesuai program fokus yang hendak dikerjakan Pemerintah Jokowi, tetapi realitanya sampai sekarang ini masih kurang aktualisasinya.

“Bahkan juga kita banyak alami kriminalisasi, penggusuran pada perjuangan-perjuangan petani yang menuntut haknya pada hak atas tanah,” sebut Ruli.

Tuntutan ke-2 menampik UU Cipta Kerja. Karena, kata Ruli, didalamnya selainnya masalah pekerja, petani ikut juga menanggung derita karena pokok dari UU itu ialah kepenguasaan tempat untuk kebutuhan pembangunan beberapa proyek infrastruktur atas nama project vital ataubproyek pembangunan nasional. “Lahan-lahan petani digusur.”

Tanah yang ada, Ruli berkata, akan dimuat dalam bank tanah seperti disebut dalam UU Cipta Kerja. Dan akan dijadikan komoditi untuk pengadaan tempat untuk kebutuhan investasi tidak untuk kebutuhan petani. “Hingga kita menampik UU Omnibus Law atau Cipta Kerja itu,” papar Ruli.

Disamping itu, UU Cipta Kerja memberi kebebasan pada import pangan karena tidak ada batas kebutuhan dalam negeri atau produksi dalam negeri. Ruli memandang hal tersebut tak lagi jadi perhatian jadi peraturan bagaimana negara dapat lakukan import pangan.

“Kita saksikan jor-joran garam kita import, bahkan juga minyak kelapa juga yang sawitnya mejadi kebun sawit paling besar di dunia kita alami masalah,” katanya. “Jadi ini ialah masalah kepenguasaan, kekayaan alam, agraria mulai dari hilir sampai hulu, kita ingin masalah pangan itu berbasiskankan keluarga petani bukan berbasiskankan korporasi.”

Dan ke-3 demonstrasi itu menampik peningkatan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM, karena terang memengaruhi harga produksi pertanian di petani. Peningkatan harga itu membuat pupuk mahal dan traktor mahal. “Hingga menambahkan kesengsaraan petani,” papar.

Ketua Mahmakah Nasional Partai Pekerja Riden Hatam Aziz menerangkan ini hari pas tanggal 24 September 2022 di mana ini hari sebagai Hari Tani Nasional. “Saya ini hari bersama dengan SPI, melakukam tindakan di muka istana negara dalam rencana mengumandangkan, sampaikan ke pemerintahan jika petani Indonesia sampai ini hari belum juga memperoleh hak-haknya,” tutur ia di antara demonstrasi

Menurut Aziz, Partai Pekerja concern ke beberapa petani, nelayan, dan pekerja, hingga ingin mengumandangkan supaya pemerintahan dengar tuntutan beberapa petani terutamanya. Tindakan ini dituruti oleh beberapa petani dari Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta, dalam jumlah periode lebih kurang 1.000 orang

“Kira-kira lebih kurang 1.000 peserta massa tindakan dan disokong oleh anggota partai pekerja yang lain dari serikat karyawan ada dari Federasi Persatuan Pekerja Indonesia (KPBI) dan Federasi Serikat Karyawan Indonesia (KSPI). Pasti ini ialah senagai bentuk kepedulian kami untuk bagaimana memberikan dukungan petani yang sampai ini hari haknya belum juga disanggupi,” kata Aziz.

About admin

Check Also

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan Ketua DPP PDIP Said Abdullah …