FKUB Ungkapkan 3 Hal Ini Jadi Argumen Ada Penampikan Gereja di Cilegon

FKUB Ungkapkan 3 Hal Ini Jadi Argumen Ada Penampikan Gereja di Cilegon

Komunitas Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengutarakan ada 3 hal sebagai argumen ada penampikan gereja di Cilegon, Banten. FKUB menyebutkan ada keterikatan riwayat dan surat keputusan Bupati Serang Tahun 1975.

“Jika dasar penampikan warga pasti dapat ditanya ke warga. Maknanya seperti apakah warga lakukan itu menurut saya tidak boleh disaksikan dari penolakannya dahulu, kelak kan berkesan jika warga Cilegon itu intoleran. Tetapi harus disaksikan jika sebetulnya ada segi yang perlu diterangkan ke semua,” kata Sekretaris FKUB Cilegon,

Agus menjelaskan, ada 3 hal yang semestinya dimengerti kenapa penampikan pembangunan gereja HKBP Maranatha Cilegon mendapatkan penampikan dari beberapa golongan masyarakat.

Pertama, kata Agus, kejadian Gempar Cilegon 1888 jadi pengkajian bersama seluruh pihak. Kejadian Gempar Cilegon, sambungnya, satu diantaranya dipacu karena larangan azan oleh pemerintahan penjajahan Belanda saat menjajah Indonesia.

“Pasti kita menyaksikan segi bersejarahnya warga, ada 3 ya. Pertama, bersejarah itu lebih kurang tahun 1988 (1888) dikenali dengan Gempar Cilegon yang memicu berlangsungnya Gempar Cilegon itu ialah karena ada larangan azan selanjutnya ambil paksakan atau upeti pada warga selanjutnya berlangsungnya penggusuran pada warga atau pribumi yang notabene nyaris 100 % ialah muslim, pada akhirannya terjadi gejolak, saat itu jihad lah ya yang dipegang oleh Kiai Wasyid,” katanya.

Kejadian ini selanjutnya munculkan kemarahan alim-ulama dan warga Cilegon hingga munculkan kejadian perlawanan pribumi pada penjajah. Pascapemberontakan yang terjadi pada 1888 itu, banyak ulama yang dikucilkan ke beragam wilayah di Indonesia sampai dibunuh.

“Sebagai masalah ialah pada akhirannya banyak ulama-ulama yang digantung, karena itu ada wilayah Pegantungan, cerita itu jadi turun-temurun sampai saat ini dan warga pahami jika mereka orang Belanda yang menggantung itu ialah nonmuslim,” ucapnya.

Tidak terlepas dari nilai bersejarah, timbulnya penampikan pada pembangunan gereja di Cilegon dilandasi ada bedol dusun di saat pembangunan pabrik Krakatau Steel tahun 1974-1978. Pembangunan pabrik baja paling besar di Asia Tenggara waktu itu munculkan kesepakatan di antara ulama, figur warga dengan faksi berkuasa yang selanjutnya munculkan klausul tidak ada tempat beribadah agama lain selainnya Islam di Cilegon.

“Selanjutnya yang ke-2 lebih kurang tahun 1974-1978 ada yang bernama proyeks Trickora, proyeks pembangunan baja Krakatau Steel pada waktu itu kepimpinan Presiden Soekarno. Nach ada persetujuan di antara beberapa alim ulama terutamanya pesantren Al-Khairiyah saat itu dan beberapa tokoh warga siap untuk diperbaiki atau saat ini lebih persisnya bedol dusun dengan catatan tidak ada tempat beribadah lain,” katanya.

Argumen ke-3 ada penampikan diperkokoh dengan Surat Keputusan Bupati Serang Tahun 1975 yang waktu itu dijabat Ronggowaluyo. Cilegon di tahun itu masih jadi sisi dari Kabupaten Serang.

“Ke-3 lebih kurang tahun 1975 telatnya tanggal 20 Desember 1975 ada surat keputusan dari Bupati Ronggowaluyo atas tekanan warga Cilegon selanjutnya mengeluarkan SK penutupan saat itu gereja Katolik. Nach itu jadi dasar,” ucapnya.

Tidak itu saja, lanjut Agus, pada 2004 saat Wali Kota Cilegon dijabat Aat Syafaat. Di tahun itu, pemerintahan Kota Cilegon sempat mengulas masalah pendirian tempat beribadah. Di tengah-tengah rapat, ada umat agama lain minta dibuatkan penyemayaman khusus non-muslim di Cilegon. Pemerintahan selanjutnya merestui keinginan itu

“Ada sebagai dasar yang baru, lebih kurang tahun 2004-2005 saat itu Wali Kotanya masih mendiang Tubagus Aat Syafaat, pada waktu itu dalam rapat itu bicara mengenai tempat beribadah tapi di selang perbincangan itu malah dari HKBP minta untuk dibuatkan tanah makam yang berada di Cikerai sekarang ini. Maknanya dari segi ini kita dapat menyaksikan dengan catatan, minta maaf jika tidak kembali ada pendirian rumah beribadah,” ucapnya.

Agus menjelaskan, Cilegon tidak selayaknya mendapatkan panggilan kota atau warga intoleran karena tidak ada tempat beribadah umat lain di Cilegon.

“Dari segi ini pasti kita dapat menyaksikan bagaimana sikap warga Cilegon sangat tolerir, maknanya diberi bahkan juga tempat untuk makam lah demikian ya,” ucapnya.

About admin

Check Also

Kritik Jokowi, Demokrat: Pimpinan Berpikir Rakyat Disaksikan dari Rekam Tapak jejak Bukan Fisik

Kritik Jokowi, Demokrat: Pimpinan Berpikir Rakyat Disaksikan dari Rekam Tapak jejak Bukan Fisik Partai Demokrat …