Tidak suka Roman dan Performa 0 Anies Baswedan

Tidak suka Roman dan Performa Nol Anies Baswedan

MESKIPUN jauh dari kacau balau pertentangan politik Anies Baswedan dan beberapa faksi yang berasa “menciut” atas kepopuleran Anies yang tetap kuat menjelang 2024, saya usaha untuk netral, walau cerita tetap dipandang sisi dari politik. Seperti opsi politik golput, yang dimengerti secara politik, pilih atau mungkin tidak pilih ialah sisi dari opsi politik. Semua bisa dipolitisasi sama sesuai keperluan.

Tetapi, menarik menyimak pengakuan Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono yang menyebutkan jika faksinya telah kumpulkan catatan kepimpinan Anies Baswedan sepanjang 5 tahun memegang Gubernur DKI Jakarta.

Menurutnya, PDIP menyaksikan dari perolehan RPJMD 2017-2022, banyak program yang tidak terang bentuknya, hingga faksinya memberi penilaian 0 dari beragam performa yang sudah dilaksanakan Anies sepanjang memegang gubernur.

Sudah pasti kita dapat mahfum dalam konteksnya politik, lepas dari baik dan jelek, bila sudah bersimpangan arus politik, karena itu bisa jadi terjadi “peristiwa tidak suka roman”.

Ini menegasi kata orang arif politik jika memang konsep Machiavelli harus dimainkan dalam tiap kasus politik supaya kelihatan ganas, walau sebenarnya ringkih. Tidak ada rekan apa lagi teman dekat dalam politik, sekalinya mereka naik kuda bersama, makan nasi goreng bersama, atau berintim politik di kereta api.

Semua ialah sisi dari pencitraan politik, penyamaran atas sesuatu yang diulasakan secara lembut sebagai koalisi, konsolidasi. Dalam politik, rupanya “politik dagang” jadi poin menarik—terutama dagang sapi. Entahlah kenapa harus sapi sebagai opsinya. Karena mungkin proses tawar-menawarnya.

Apa lagi Politik Dagang Sapi bisa dimengerti sebagai wujud pemufakatan politik antara partai, juga bisa dilaksanakan oleh sebuah partai dengan beberapa pihak tertentu lakukan tawar-menawar atau konsensi-konsensi yang lain untuk penuhi kemauan masing-masing faksi yang turut serta didalamnya.

Karena terang yang bermain pada proses politik dengan semua dinamikanya semua asli manusia yang cerdas-cerdas juga, bukan kelompok sapi. Kenapa harus 0? Apa dalam politik tidak mengenali politik benar yang menghargakan performa pesaing sebagai prestasi? Bagaimana juga nyaris tiap pemain politik akan bermain aman semenjak 100 hari awal performanya.

Minimal bila dia punyai 100 program, 10 % saja telah digolkan ialah tetap sebuah prestasi. Sekalinya prestasinya ialah seperti seremoni dari perayaan atau bangunan artifisial, tetapi minimal mengganti muka dan landskap Jakarta jadi sedikit manis atau malah terlampau manis.

Hingga susah untuk ungkap sanjungan karena masalah persaingan itu. Dan jika kita meng-amini, “beberapa” perolehan bila dapat dikatakan sebagai prestasi Anies atau siapa saja sebagai alternatif gubernur yang lama, ialah sisi dari keberlanjutan kerja-kerja pembangunan perintisnya.

Ada project yang baru dapat usai dalam kontrak multiyears, ada yang dapat usai dalam waktu cepat seperti pekerjaan Sangkuriang membuat Tangkuban Perahu, tetapi itu musykil.

Bila Anies cuma untuk pelanjut pembangunan karena tanggungjawab yang sudah dipasangkan khalayak dalam sebuah elektoral, karena itu jadi kewajibannya meneruskan pembangunan yang masih ada, terlambat atau tidak pernah terlaksana untuk diteruskan, direalisasikan atau diulangi riset mengikuti peralihan sikon.

Walau sebenarnya kritikan 0 itu ialah sisi dari kritikan atas diri kita dari partai yang lain awalnya jadi pengusung juaranya—dalam ini Jokowi yang awalnya ialah Gubernur Jakarta yang tidak lain digotong oleh partainya Gembong Warsono.

Politik sopan Sebaiknya untuk usaha berlaku arif sebagai politikus, untuk ingin berendah hati mengaku apa yang sudah diusahakan oleh seseorang sekalinya dalam kerangka persaingan. Bagaimana juga perolehan pembangunan Jakarta ialah untuk khalayak.

Sekecil apa saja hasilnya tetap sebuah hasil bukan preseden atau terburukan. Terkecuali bila “prestasinya” ialah kejahatan semua. Sudah pasti kita mengharap, sesudah Anies, beberapa pelanjutnya akan lengkapi kerja-kerja yang kurang, ketinggalan, belum usai atau harus ditelaah ulangi untuk kebaikan semua.

Jakarta ialah Indonesia mini, semua masalah politiknya juga sudah jadi gelaran gladi resik untuk pertempuran beberapa partai politik saat sebelum dapat masuk ke pilpres—termasuk 2024 yang hendak demikian hot! Sehingga kita mahfum tentulah panas kompor gas Pemilihan presiden 2024 sebagai penyebab semakin panasnya kompetisi ke arah bangku 2024.

Apa lagi PDIP-nya Gembong Warsono sedang ngotot membidik bangku RI 1, dan persaingan intinya tidak lain ialah bekas Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang baru saja ini dikukuhkan oleh Nasdem dengan cara resmi sebagai calon kuatnya.

Ayolah, usaha berkokok lebih keras, pertajam taji intelegensianya. Saya tidak paham apa diakhir tulisan ini, saya masih netral atau ada tendensi ke arah satu titik opsi politik tertentu. Anggaplah itu opsi politik semu. Tetapi tersebut realita yang harusnya harus direspon dengan arif secara politik.

Bila sebetulnya kita percaya suara kriris kita bertendesi suatu hal, akan lebih bagus bila diam atau berpolitiklah sopan dan arif. Itu bisa menyuap kepopuleran, bukan jatuhkan marwah sendiri.

Berhati-hatilah rakyat semakin cerdas—sekalipun tengah demikian ringkih sesudah pukulan wabah dan peralihan ekonomi sesudahnya, apa lagi bila betul krisis 2023 akan menghantui kita. Keep Clean Government, teruslah damai, menjaga demokrasi prosedural sebagai patron politik kita.

About admin

Check Also

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan Ketua DPP PDIP Said Abdullah …