Walau Berkelit Tidak Tembak Brigadir J, Ferdy Sambo Dipandang Masih tetap Akan Bisa Hukuman Berat

Walau Berkelit Tidak Tembak Brigadir J, Ferdy Sambo Dipandang Masih tetap Akan Bisa Hukuman Berat

Bekas hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan Albertina Ho memandang, apa saja argumennya, tersangka Ferdy Sambo tetap memperoleh hukuman berat. Adapun Ferdy Sambo dituduh jadi orang yang memerintah pembunuhan merencanakan pada pengawalnya yaitu Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat.

“Tidak jadi argumen jika ia tidak lakukan suatu hal (penembakan) untuk melepas ia dari tanggung-jawab itu (hukuman berat),” kata Albertina pada acara ROSI di Kompas TV, Kamis malam.

Albertina berpandangan, hukuman untuk Ferdy Sambo mustahil enteng. Karena, Sambo sebagai orang yang merencakan eksekusi itu. Selanjutnya, dia memandang, malah ada peluang ekskutor penembakan dapat tidak terserang pidana.

“Jika untuk saya itu mustahil (hukuman Sambo dikurangkan), karena ini, jika barusan Mba Rosi ucapkan ia memerintah lakukan, bahkan juga jika dalam teori hukum pidana itu orang yang memerintah lakukan itu, orang yang lakukan itu sebenernya tidak dipidana. Malah yang memerintah lakukan itu yang dipidana,” sebut Albertina.

Walau begitu, menurut dia, masih tetap ada beberapa pemikiran tertentu untuk dapat membuat orang sebagai ekskutor pembunuhan merencanakan tidak terlilit pidana.

“Tetapi untuk orang yang lakukan itu tidak dipidana kita harus juga menyaksikan, ia lakukan itu pada kondisi apa,” sebut ia.

Pokoknya, kata Albertina, orang yang memerintah atau merencakan pembunuhan merencanakan pasti mendapatkan hukuman berat. Dia menyebutkan, segala hal nanti akan tersingkap dan dikeduk lebih dalam oleh hakim dalam persidangan.

“Jadi jika dengan teori semacam ini, dengan hukum pidana atur semacam ini, memiliki arti kan otaknya ini mustahil kan tidak dijatuhi hukuman,” papar ia.

Sebelumnya telah dikabarkan, dalam sidang pembacaan tuduhan, beskal menyebutkan Ferdy Sambo turut tembak Brigadir J di Kompleks Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Beskal menyebutkan, awalnya, Sambo memerintah Richard Eliezer atau Bharada E untuk tembak Yosua di lantai satu ruangan tengah rumah dinasnya. Bharada E yang awalnya sudah mengatakan kesiapannya untuk tembak Yosua lalu arahkan senjata api Glock-17 ke Brigadir J.

Ia tembakkan senjata api kepunyaannya itu sekitar 3 atau 4 kali sampai Yosua jatuh dan tergeletak keluarkan banyak darah. Sesudahnya, Sambo mendekati Yosua yang terkapar di dekat tangga depan kamar mandi pada kondisi tengkurap masih bergerak kesakitan.

Ketahui Yosua masih bernyawa, Sambo lalu tembakkan pistol ke sisi belakang kepala Yosua sampai ia ditegaskan wafat. “Untuk pastikan betul-betul tidak bernyawa kembali, tersangka Ferdy Sambo yang telah menggunakan sarung tangan hitam memegang senjata api dan tembak sekitar 1x berkenaan pas kepala sisi belakang segi kiri korban Nofriansyah Yosua Hutabarat sampai korban wafat,” kata beskal.

Atas tuduhan pada Ferdy Sambo, team kuasa hukumnya ajukan berkeberatan atau eksepsi. Dalam eksepsi, JPU dipandang tidak jeli dalam merinci serangkaian kejadian surat tuduhan karena sudah meremehkan bukti yang sebenarnya.

Faksi advokat Sambo bahkan juga memandang JPU telah menjungkirbalikkan bukti dalam merinci surat tuduhan.

About admin

Check Also

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan

Ganjar Cat Rambut Hitam, PDIP Sebutkan Satu Hati dengan Puan Ketua DPP PDIP Said Abdullah …